Retardasi Mental

Retardasi Mental

Retardasi Mental atau Disabilitas intelektual adalah kemampuan intelegensi atau mental dibawah rata-rata orang normal, dan kemampuan untuk melakukan keterampilan sehari-hari yang lebih lambat.

Retardasi Mental

 

Penyebab 

Retradasi Mental disebabkan oleh gangguan kondisi otak yang dapat terjadi akibat beberapa faktor, diantaranya adalah:

  • Cedera, misalnya karena kecelakaan lalu lintas atau saat berolahraga.
  • Kelainan Genetik, seperti Sindrom Down, Hipotiroidisme, Fragile x.
  • Menderita penyakit yang memengaruhi fungsi otak, seperti infeksi pada otak (misalnya, meningitis) atau tumor otak.
  • Gangguan saat kehamilan yang menyebabkan gangguan perkembangan otak janin. Seperti kekurangan nutrisi selama hamil, infeksi, penggunaan obat terlarang, preeklamsia,  penggunaan alkohol, gizi buruk.
  • Gangguan saat melahirkan. Seperti kekurangan oksigen atau terlahir premature sehingga paru-paru belum matang secara sempurna.

Pada kasus tertentu, penyebab retradasi mental tidak diketahui secara pasti.

Gejala 

Gejala pada tiap pasien dapat berbeda-beda, tergantung tingkat keparahan yang dialami. Yang biasanya timbul pada penderita retradasi mental, berupa:

  • Kesulitan berbicara.
  • Lambat dalam mempelajari hal-hal penting, seperti berpakaian dan makan.
  • Kesulitan dalam pengendalian emosi, seperti mudah marah.
  • Ketidakmampuan memahami konsekuensi atasi tindakan yang diambil atau sering tantrum.
  • Penalaran yang buruk dan sulit memecahkan suatu masalah.
  • Daya ingat yang buruk.
  • Kesulitan untuk berhubungan dengan orang lain.

Nilai IQ penderita juga dapat menunjukan tingkat keparahan kondisi yang diderita. Berikut tingkat keparahan kondisi berdasarkan nilai IQ:

  • Ringan – nilai IQ sekitar 70-50.
  • Sedang – sekitar 50-35.
  • Berat – sekitar 35-20.
  • Sangat berat – dibawah 20.

Pasien yang tergolong sangat berat dapat menunjukan gejala lain, seperti kejang, gangguan pengelihatan, gangguan pengendalian gerak tubuh, atau gangguan pendengaran. Apabila gejala-gejala retardasi mental muncul, segera temui dokter untuk mendapatkan penanganan. Biasanya penderita retardasi mental akan menunjukan 2 tanda utama, yakni kemampuan menyesuaikan diri yang buruk dan nilai IQ dibawah rata-rata.

Faktor 

  1. Biologis, contohnya pada kelainan kromosom pada pengidap sindrom down.
  2. Metabolik, beberapa kelainan metabolik dapat meningkatkan risiko retardasi mental seperti penyakit phenylketonuria (PKU), dimana tubuh tidak dapat mengubah asam amino fenilalanin menjadi tirosin.
  3. Prenatal, perawatan pra kelahiran yang buruk dapat meningkatkan risiko retardasi mental pada bayi, contohnya konsumsi alkohol pada saat  kehamilan dan infeksi cytomegalovirus saat kehamilan.
  4. Psikososial, lingkungan rumah dan keluarga dapat menjadi penyebab timbulnya retardasi mental terutama tipe sosio-kultural, yang merupakan retardasi mental ringan.

 

Pencegahan 

Penyebab retardasi mental adalah gangguan perkembangan otak yang muncul ketika seseorang masih di dalam kandungan. Ibu hami dapat meminimalkan risiko terjadinya kondisi ini pada janinnya, dengan cara:

  • Tidak merokok dan menghindari konsumsi alkohol.
  • Melakukan pemeriksaan rutin.
  • Mengkonsumsi vitamin sesuai kebutuhan.
  • Menjalani vaksinasi.

Untuk retardasi mental yang disebabkan oleh cedera kepala akibat kecelakaan, dapat anda cegah dengan menggunakan alat pelindung diri yang sesuai ketika melakukan aktivitas, misalnya saat bekerja dilapangan, berolahraga, atau berkendara.

Pengobatan 

Terapi yang biasa diberikan adalah individualized family service plan (IFSP) dan individualized education program (IEP). Dalam terapi tersebut, dokter atau terapis akan melatih pasien untuk mengendalikan gejala yang dialami, misalnya kesulitan berbicara, juga memberikan bimbingan pada keluarga untuk mendampingi pasien dalam aktivitas sehari-hari.

Selain itu, orang tua juga dapat membantu perkembangan pasien dengan melakukan beberapa upaya, seperti:

  • Membiarkan pasien mencoba hal baru, dan memberi tahu dia untuk melakukan suatu hal secara mandiri.
  • Memerhatikan perkembangan pasien di sekolah, dan membantu mempelajari ulang apa yang terlah dipelajari di sekolah.
  • Mengikutsertakan pasien dalam aktivitas kelompok atau aktivitas yang membutuhkan kerjasama dan interaksi, seperti pramuka.
  • Terapi wicara, terapi okupasi, terapi motorik- fisik, konseling keluarga, latihan penggunaan alat khusus hingga program pengaturan nutrisi.

Sumber: Alodokter, Halodoc

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: